Sesuatu hal yang dianggap langka tak lepas dari hembusan kisah aneh bagi yang merasakannya. Begitulah yang dialami penemu cangkang kerang raksasa, Edi Hidayat (28).
Saat ini, Edi beserta istri dan dua anaknya tinggal bersama di kediaman orangtua Edi di kawasan Ciparea Selatan. Baru sehari cangkang kerang itu diinapkan, rupanya menyimpan cerita yang tak seperti biasa.
Edi mengaku ada sesuatu berbeda yang mendera kondisi tubuhnya. “Tidak biasanya, badan ini malah menjadi pegal-pegal. Padahal, walau kerja hingga cape tidak pernah begini,” jelasnya kepada detikbandung, Senin (13/4/2009).
Selain itu, kata Edi, anak keduanya bernama Dimas (3), semalam bertingkah rewel. Bahkan, anaknya itu seolah tidak mau berada di dalam rumah.
“Tengah malam tadi, anak saya selalu terbangun dari tidurnya. Ada sekitar empat kali terbangun. Dia terus menangis dan mengajak keluar rumah. Biasanya tidak begitu” terangnya.
Apakah hal tersebut terkait keberadaan cangkang raksasa itu? Edi pun tetegun sejenak. “Percaya dan tidak percaya sih,” jawab pria berambut pendek ini.
Diberitakan sebelumnya, Kerang pertama kali ditemukan oleh Edi Dayat dan Soleh saat tengah menggali tanah untuk memasang penampung air di rumah Rohman. Saat penggalian sedalam 2 meter terbentur dengan cadas.
Karena penasaran Edi terus menggali dengan menggunakan cangkul dan pahat. Saat digali lagi menjadi 2,5 meter, ditemukan bungkus kerang ukuran besar dengan posisi miring. Warna bungkus kerang itu putih pudar dengan panjang 65 cm dan lebar 40 cm.
Tim dari Museum Geologi yang terdiri dari Ahli Moluska Museum Geologi Elina Sufiati dan Kasie Dokumentasi Museum Geologi Sinung Baskoro serta dua staff lainnya mendatangi kediaman Edi, mereka memperkirakan temuan tersebut merupakan fosil yang dibawa manusia purba jutaan tahun lalu.
Sumber: detik
Jumat, 29 Mei 2009
Penemuan Fosil Serangga Puluhan Juta Tahun
London (SuaraMedia) – Seorang ilmuwan berhasil menemukan sebuah spesies serangga baru di situs jual beli eBay. Mengetahu hal tersebut, ilmuwan itu pun langsung membelinya.
“Saya berhasil membeli spesies serangga yang belum teridentifikasi ini di eBay dari seorang penjual yang berlokasi di Lithuania. Serangga tersebut telah berbentuk fosil,” ujar Dr Richard Harrington, seperti dikutip melalui Daily Telegraph, Rabu (27/8/2008). Harrington mengaku telah membelinya seharga 20 euro.
Sayangnya, Harrington bukanlah seorang ahli serangga. Oleh karena itu, ia memberikan kuasa penuh kepada seorang profesor serangga di Denmark untuk meneliti serangga tersebut, Profesor Ole Heie.
Serangga berwarna kuning langsat tersebut diperkirakan hidup pada masa 40 hingga 50 juta tahun lalu. Ukurannya hanya 3 hingga 4 milimeter, atau setara dengan ukuran sebuah pil.
“Saya pikir sangat pas jika serangga ini disebut sebagai Mindarus eBayi namun sepertinya sudah menjadi tren saat ini untuk menggunakan nama si penemu,” papar Harrington.
Akhirnya, Profesor Heie pun memberikan serangga tersebut jenis nama Mindarus Harringtoni.(okz) SuareMedia.Com
Peluang Usaha Kerajinan Batu Fosil
Hobi seringkali mendatangkan keuntungan yang tak terkira. Dari hoby tersebut kita dapat mersakan rejeki yang lumayan bagi pemasukan kehidupan kita. Terlebih apabila kita memiliki hoby yang rada unik, tentu dari hoby kita itu dapat kita kembangkan menjadi sebuah suatu usaha yang medatangkan keuntungan. Hoby unik pun banyak seperti yang berhubungan dengan batu fosil. Apakah yang dapat kita kembangkan dengan hoby yang berhubungan dengan batu fosil tersebut? Tentu saja ada dan sangat menarik untuk di kembangkan sebagai usaha yang dapat mendatangkan keuntungan.
Dari batu fosil kita dapat membuat suatu karya yang bernilai cukup besar. Lewat sisa-sisa tumbuhan zaman purba kita bisa menjadi seniman fosil yang mumpuni. Hebatnya, uang pun kini mengalir deras ke dengan sendirinya. Hobi mengulik-ulik fosil memang cukup unik. Kita dapat mengembangkan usaha sendiri bersama keluarga. Kita memilih fosil bukan tanpa alasan. Bebatuan berumur jutaan tahun itu memang sangat banyak ditemui di sekitar pedesaan. Semakin tua umur batu, maka semakin mahal harganya.
Untuk mencari fosil, kita cukup menancapkan sebuah besi panjang ke tanah sedalam dua hingga tiga meter. Nah, jika besi yang dihujamkan berbenturan dengan batu, maka bahwa itu fosil. Selanjutnya, kita tinggal menggalinya saja.
kita juga bisa mencari fosil itu di lahan milik orang lain dan bekrja sama, jika menemukan fosil, kita dapat membicarakan harga yang pantas untuk batu-batu tersebut. Untuk harga yang kita bisa jual berfariasi, tergantung kesepakatan. Ada yang meminta harga fosil Rp 200 per kilogram (kg), namun ada kita juga dapat memasang dengan harga Rp 500 per kg. Dalam satu bulan, biasanya kita bisa mendapatkan batu sebanyak 22 ton dengan berbagai ukuran. Mulai dari dari yang berukuran 5 kg hingga 2 ton per batu. Dari bahan baku sebanyak itu, hnya separuhnya saja kita mampu memproses sebanyak 16 ton saja.
Dengan bahan baku sebanyak itu, saya menghasilkan sekitar 500-an produk berbagai ukuran. Kita dapat membuat berbagai hasil dari kerajinan dari batu-batu itu, seperti bath up, wastafel, kursi, bangku, meja, asbak, dan lain sebagainya. Tapi, ada juga pelanggan yang minta dibuatkan prasasti. Tergantung dari pesanan setelah tahu, kemudian kita dapat langsung mengolah dan mulai memperhalus batu batu tersebut dengan ampelas atau membentuknya dengan gerinda. Lama mengolah fosil tergantung tingkat kesulitannya. Untuk bath up, membutuhkan waktu sepuluh hari non stop. Sementara untuk ukiran atau prasasti hanya butuh waktu hingga 36 hari yang paling mudah dibuat adalah asbak.
Dalam sehari ia bisa membuat 20 asbak. Lama pembuatan tentunya juga mempengaruhi harga jual. Untuk satu asbak, kita dapat menjual dengan harga Rp 60.000 – Rp 150.000. Sementara untuk wastafel biasanya ia jual seharga Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Bangku kita dapat tawarkan Rp 8.000 per kg hingga Rp 12.000 per kg. Sedangkan untuk bath up kita dapat menjualnya jual dengan harga Rp 12 juta – Rp 15 juta. Memang usaha ini membutuhkan karyawan untuk membantu proses dari pda usaha batu fosil ini. Jika kita sudah memiliki keuntungan dan merasa bisnis yang kita jalnkan berkembang kita dapat mempekerjakan pegawai dan karyawan untuk membantu kita.
Keuntungan yang dapat diraup dan dapat kita nikmati bisa di katakan besar, dalam sebulan kita dapat mengantongi omset dan keuntungan Rp.180 juta dalam sebulan. Untuk pemasaran kita dapat memasarka ke luar daerah bahkan jika bisnis kita tersebut terkenal dengan kualitas yang nilai seni yang tinggi kita dapat mencpai kancah keluar negeri.
Dari batu fosil kita dapat membuat suatu karya yang bernilai cukup besar. Lewat sisa-sisa tumbuhan zaman purba kita bisa menjadi seniman fosil yang mumpuni. Hebatnya, uang pun kini mengalir deras ke dengan sendirinya. Hobi mengulik-ulik fosil memang cukup unik. Kita dapat mengembangkan usaha sendiri bersama keluarga. Kita memilih fosil bukan tanpa alasan. Bebatuan berumur jutaan tahun itu memang sangat banyak ditemui di sekitar pedesaan. Semakin tua umur batu, maka semakin mahal harganya.
Untuk mencari fosil, kita cukup menancapkan sebuah besi panjang ke tanah sedalam dua hingga tiga meter. Nah, jika besi yang dihujamkan berbenturan dengan batu, maka bahwa itu fosil. Selanjutnya, kita tinggal menggalinya saja.
kita juga bisa mencari fosil itu di lahan milik orang lain dan bekrja sama, jika menemukan fosil, kita dapat membicarakan harga yang pantas untuk batu-batu tersebut. Untuk harga yang kita bisa jual berfariasi, tergantung kesepakatan. Ada yang meminta harga fosil Rp 200 per kilogram (kg), namun ada kita juga dapat memasang dengan harga Rp 500 per kg. Dalam satu bulan, biasanya kita bisa mendapatkan batu sebanyak 22 ton dengan berbagai ukuran. Mulai dari dari yang berukuran 5 kg hingga 2 ton per batu. Dari bahan baku sebanyak itu, hnya separuhnya saja kita mampu memproses sebanyak 16 ton saja.
Dengan bahan baku sebanyak itu, saya menghasilkan sekitar 500-an produk berbagai ukuran. Kita dapat membuat berbagai hasil dari kerajinan dari batu-batu itu, seperti bath up, wastafel, kursi, bangku, meja, asbak, dan lain sebagainya. Tapi, ada juga pelanggan yang minta dibuatkan prasasti. Tergantung dari pesanan setelah tahu, kemudian kita dapat langsung mengolah dan mulai memperhalus batu batu tersebut dengan ampelas atau membentuknya dengan gerinda. Lama mengolah fosil tergantung tingkat kesulitannya. Untuk bath up, membutuhkan waktu sepuluh hari non stop. Sementara untuk ukiran atau prasasti hanya butuh waktu hingga 36 hari yang paling mudah dibuat adalah asbak.
Dalam sehari ia bisa membuat 20 asbak. Lama pembuatan tentunya juga mempengaruhi harga jual. Untuk satu asbak, kita dapat menjual dengan harga Rp 60.000 – Rp 150.000. Sementara untuk wastafel biasanya ia jual seharga Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Bangku kita dapat tawarkan Rp 8.000 per kg hingga Rp 12.000 per kg. Sedangkan untuk bath up kita dapat menjualnya jual dengan harga Rp 12 juta – Rp 15 juta. Memang usaha ini membutuhkan karyawan untuk membantu proses dari pda usaha batu fosil ini. Jika kita sudah memiliki keuntungan dan merasa bisnis yang kita jalnkan berkembang kita dapat mempekerjakan pegawai dan karyawan untuk membantu kita.
Keuntungan yang dapat diraup dan dapat kita nikmati bisa di katakan besar, dalam sebulan kita dapat mengantongi omset dan keuntungan Rp.180 juta dalam sebulan. Untuk pemasaran kita dapat memasarka ke luar daerah bahkan jika bisnis kita tersebut terkenal dengan kualitas yang nilai seni yang tinggi kita dapat mencpai kancah keluar negeri.
Penemuan Fosil Daun Purba di Blora Selatan
Fosil gading gajah purba (Stegodon elephas) yang kini ditempatkan di Museum Mahameru, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, retak dan pecah, Senin (12/1). Kerusakan itu terjadi pada saat pemindahan fosil dari Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, ke museum.
Menyusul penemuan fosil gajah purba, Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral kembali menemukan fosil daun purba.
Daun itu ditemukan di Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. ”Berdasarkan temuan-temuan itu, tampaknya kawasan Blora Selatan merupakan savana di zaman Pleistosen yang dilewati Bengawan Solo purba,” kata Ketua Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung Iwan Kurniawan, Sabtu (4/4) di Blora.
Fosil daun ditemukan di sekitar fosil gajah purba dan tercetak di batu lanau—terbentuk dari proses sedimentasi butiran lempung dan pasir. Dari ukuran daun yang relatif kecil, temuan gajah dan kerbau purba serta kontur sedimentasi di lokasi itu, tim memperkirakan, fosil itu dari zaman Pleistosen, 1.808.000- 11.500 tahun lalu.
Kepala Seksi Dokumentasi Museum Geologi Bandung SR Sinung Baskoro mengatakan, kawasan Blora Selatan banyak mengandung endapan teras Bengawan Solo purba yang menyimpan aneka fosil.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora Suntoyo mengatakan, Pemkab Blora menitipkan fosil itu di Museum Geologi Bandung.
Serahkan temuan
Seorang warga Kudus, Jawa Tengah, Sutodirono alias Rasimin (60), Minggu (5/4), menyerahkan temuan berupa 6 benda arkeologi, diduga dari abad ke-15, kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.
Temuan itu berupa 3 buah mangkok berdiameter 13, 14, dan 15 sentimeter, ketinggian masing-masing 5 sentimeter. Dua benda lain menyerupai lepek dan sebuah miniatur rumah adat Minangkau.
Kepala seksi Sejarah Museum Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Sancaka Dwi Supani mengatakan, ”Untuk menentukan umur, jenis benda, bahan baku pembuatan benda, dan sebagainya, kami akan mengundang tenaga ahli dari Museum Ronggowarsito Jawa Tengah di Semarang,” katanya. Rasimin mengaku benda-benda itu ditemukannya di bekas pertapaan Sunan Kalijogo beberapa tahun lalu.KOMPAS
Label:
daun,
fosil,
fossil,
gajah purba,
kehidupan purba
Hampir Semua Fosil Gajah Purba Dievakuasi
Dalam pengupasan tahap kedua, Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mengevakuasi 80 persen fosil gajah purba jenis Elephas hysudrindicus. Tim menemukan pula fosil tulang pinggul dan paha yang masih saling bertaut.
Ketua Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung Iwan Kurniawan, Jumat (1/5) di Blora, Jawa Tengah, mengatakan, fosil yang belum ditemukan adalah fosil tulang paha, kaki depan, dan rahang bawah. Kemungkinan fosil tulang-tulang itu berada di bawah fosil tulang-tulang lain.
”Kami menjumpai pula fosil tulang pinggul dan paha yang masih saling bertaut. Hal itu menegaskan teori gajah purba itu mati di lokasi temuan, bukan terbawa dan terendapkan arus Bengawan Solo purba,” kata Iwan menjelaskan.
Iwan menduga lokasi penemuan fosil gajah di Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, itu dahulu merupakan sedimen yang belum memadat atau masih labil.
”Gajah itu mati dalam posisi terjerembab atau terperosok endapan tanah. Kemungkinan lokasi temuan itu dahulu merupakan endapan lumpur Bengawan Solo purba,” kata Iwan.
Disimpan di museum
Pada pengupasan tahap pertama, Tim Vertebrata menemukan sekitar 30 persen fosil tulang gajah purba, antara lain fosil tengkorak, gading, lengan, belikat, dan paha. Fosil-fosil itu kini telah disimpan di Museum Geologi Bandung.
Pada pengupasan tahap kedua, tim menemukan 12 tulang ekor, tulang jari, 14 tulang rusuk, pecahan gigi, dan belikat. Tim sempat kesulitan memindahkan sejumlah fosil karena posisinya saling berdekatan dan saling menyangga.
Secara terpisah, ahli vertebrata Museum Geologi Bandung, Prof Fachroel Aziz, mengatakan, gajah purba yang ditemukan tersebut diperkirakan berusia dua juta tahun. Binatang itu masuk dalam kategori fauna Ngandong, seperti kerbau, kuda nil, babi, dan badak.
”Hewan itu hidup di savana atau padang rumput yang dilintasi Bengawan Solo purba pada zaman Pleistosen. Hal itu diketahui dari tipikal binatang-binatang itu yang suka berkubang di air,” kata Aziz.
Menurut dia, di Blora bagian selatan terdapat 5-7 endapan teras Bengawan Solo purba. Di dalam endapan itu terkandung fosil-fosil yang dapat menjawab teka-teki kehidupan zaman purba.
”Penemuan ini sangat penting. Karena itu, kami akan melanjutkan pengupasan fosil gajah itu untuk menjawab teori evolusi gajah purba sekaligus lingkungan hidupnya,” kata Aziz.
Sumber: kompas
Peranan Warga Ikut Menjaga Fosil atau benda bersejarah
Banyaknya artefak benda purbakala berupa fosil atau benda bersejarah lainnya yang hilang di wilayah Kecamatan Kradenan membuat Pemkab Blora prihatin.
Sebab, sejumlah fosil ditengarai keluar dari Blora melalui perdagangan gelap. Kolektor banyak datang ke kecamatan Kradenan karena di tempat itu banyak ditemukan benda-benda purbakala. Karena itu, pemkab meminta warga agar bisa menjaga dan mengamankan lokasi penemuan situs atau artefak lainnya. “Karena itu merupakan salah satu potensi kekayaan bagi masyarakat Blora,” ujar Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DKPPO) Blora, Suntoyo.
Menurutnya, masyarakat jangan sampai berbondong-bondong untuk mengadakan penggalian karena banyaknya fosil yang ditemukan di lahan-lahan sekitar sawah atau rumah mereka, Sebab, itu akan merusak lokasi dan situs yang ada. Dia berharap bila warga menemukan sebaiknya jangan mengambil, namun dilaporkan kepada aparat setempat. ”Ada indikasi warga tergiur untuk menggali karena ada yang akan membeli,” tambahnya.
Terkait maraknya pencurian artefak atau fosil-fosil itu, kata dia, pelaku dan pembeli bisa dijerat hukum sesuai dengan UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ancamannya pidana penjara selama 10 tahun dan denda paling tinggi Rp 100 juta.
Berdasarkan UU itu, tandasnya, apabila masyarakat ada yang melanggar akan ditindak dan diproses secara hukum. Termasuk bila melakukan pencarian terhadap benda cagar budaya tanpa izin. ”Jika itu dilakukan, bisa dipenjara lima tahun dan denda paling tinggi Rp 50 juta. Karena itu kami terus sosialisasikan UU itu agar warga mengerti,” tegasnya. (ono)
Sumber: jawapos
Sebab, sejumlah fosil ditengarai keluar dari Blora melalui perdagangan gelap. Kolektor banyak datang ke kecamatan Kradenan karena di tempat itu banyak ditemukan benda-benda purbakala. Karena itu, pemkab meminta warga agar bisa menjaga dan mengamankan lokasi penemuan situs atau artefak lainnya. “Karena itu merupakan salah satu potensi kekayaan bagi masyarakat Blora,” ujar Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DKPPO) Blora, Suntoyo.
Menurutnya, masyarakat jangan sampai berbondong-bondong untuk mengadakan penggalian karena banyaknya fosil yang ditemukan di lahan-lahan sekitar sawah atau rumah mereka, Sebab, itu akan merusak lokasi dan situs yang ada. Dia berharap bila warga menemukan sebaiknya jangan mengambil, namun dilaporkan kepada aparat setempat. ”Ada indikasi warga tergiur untuk menggali karena ada yang akan membeli,” tambahnya.
Terkait maraknya pencurian artefak atau fosil-fosil itu, kata dia, pelaku dan pembeli bisa dijerat hukum sesuai dengan UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ancamannya pidana penjara selama 10 tahun dan denda paling tinggi Rp 100 juta.
Berdasarkan UU itu, tandasnya, apabila masyarakat ada yang melanggar akan ditindak dan diproses secara hukum. Termasuk bila melakukan pencarian terhadap benda cagar budaya tanpa izin. ”Jika itu dilakukan, bisa dipenjara lima tahun dan denda paling tinggi Rp 50 juta. Karena itu kami terus sosialisasikan UU itu agar warga mengerti,” tegasnya. (ono)
Sumber: jawapos
Artikel Fossil
FOSSIL
Fossil adalah sisa dari makhluk makhluk yang pernah hidup. Tersebar di setiap benua, fosil-fosil mengajari kita tentang bumi dan fosil menyediakan bukti yang mendukung evolusi kehidupan (????, pent. sengaja gak disensor). Tetapi menemukan fossil tidaklah gampang. Sebagaimana paleontologist (ahli fossil) Robert Bakker menjelaskan, pencarian fossil membutuhkan mata yang terlatih:
Robert Bakker, “Hal yang paling penting dicari ketika anda menggali dinosaurus adalah benda yang ada di sana, pada batas pandangan anda. Jadi, ketika anda menggali dinosaurus, anda mesti memiliki pandangan 360 derajat yang ekologis. Lihatlah segala sesuatu. Berhati-hatilah terhadap segala sesuatu….”
Para paleontolog melakukan perjalanan melalui padang pasir, tundra yang membeku, samudera, dan gua-gua bawah tanah untuk menyingkap sisa-sisa spesies yang purba dan punah.
Pekerjaan tersebut bisa berresiko, sebelum menemukan fossil hanyalah permulaan. Begitu fossil ditemukan, paleontologist harus mengangkatnya dari tanah secara hati-hati. Proses penggalian ini bisa berhari-hari.
Paleontolog 1,”Jadi di sini lubang hidung yang lain, di sini.”Paleontolog 2,”Ya.”
Paleontolog 1,”Ini, aku menggali bagian hidung.”
Mereka harus berhati-hati agar tidak merusak fossil apapun yang ada. Ketika diangkat dari tanah, fossil dibungkus dalam aluminium foil dan dilapisi kain goni untuk menjaga keamanannya selama perjalanan. Di laboratorium, bungkus dibuka dan fossil harus mendapatkan pembersihan.
Fossil yang asli terlalu berat dan mudah pecah untuk ditampilkan, sehingga para ilmuwan membuat tiruannya. Mereka melapiskan cairan karet pada bagian luar fossil untuk membuat cetakan. Cetakan yang telah mengeras diangkat dan diisi dengan resin untuk membuat tiruan fossil asli. Pada tahap ini, paleontologist juga membuat model-model dari bagian-bagian yang hilang.
Sebagaimana Dr. Paul Sereno menjelaskan, para paleontologist membuat hampir semua apa yang mereka telah gali. Dr. Paul Sereno, “Kami telah cukup berharap kami memiliki lebih, kami telah cukup berkata kami dapat mengambilnya dan membuat kerangka
luarnya. Kami memburu tengkoraknya, kami kekurangan tengkoraknya, kami tidak memilikinya, tetapi kami memiliki cukup dari binatang itu, lengan-lengannya, dan cukup tulang punggung untuk mengukur ukurannya secara benar dan untuk mendapatkan gambar seperti apa gesitnya bintang itu dulu.”
Tulang-tulang yang telah direkontruksi sekarang telah siap untuk dirakit bersama. Tulang-tulang itu ditempatkan pada sebuah frame baja yang menopangnya. Bentuk dari yang dihasilkan frame memberikan kerangka yang lengkap dari tampilan gerakannya. Dengan beberapa potong yang hilang dan kadangkala hanya bekerja dengan beberapa fragmen sebuah tulang, kesalahan-kesalahan bukan hal khusus.
Robert Bakker, “Baiklah, ibu saya kadang menggerak-gerakkan sangkar sambil berkata, “Baiklah, Bob, kamu adalah seorang ilmuwan, kamu selalu menghidupkan makhluk-makhluk, kamu dapat satu tulang dan kamu bikin binatang dengan utuh. Kamu dapat kepala yang salah, ekor yang keliru, ekor dengan ujung yang salah, kepala yang salah pada ujung yang salah….’hal itu terjadi dalam beberapa peristiwa. Tetapi hampir selalu ilmuwan lain yang, ahli anatomi , yang menangkap kesalahan dan membetulkannya”
Dalam banyak kasus, para paleontolog kadang memasangnya dengan benar. Dengan banyak keahlian dan sedikit keberuntungan, hasilnya luar biasa………………kebangkitan kembali seekor spesies yang telah punah jutaan tahun yang lalu.
Sumber: masbadar.wordpress.com
Fossil adalah sisa dari makhluk makhluk yang pernah hidup. Tersebar di setiap benua, fosil-fosil mengajari kita tentang bumi dan fosil menyediakan bukti yang mendukung evolusi kehidupan (????, pent. sengaja gak disensor). Tetapi menemukan fossil tidaklah gampang. Sebagaimana paleontologist (ahli fossil) Robert Bakker menjelaskan, pencarian fossil membutuhkan mata yang terlatih:
Robert Bakker, “Hal yang paling penting dicari ketika anda menggali dinosaurus adalah benda yang ada di sana, pada batas pandangan anda. Jadi, ketika anda menggali dinosaurus, anda mesti memiliki pandangan 360 derajat yang ekologis. Lihatlah segala sesuatu. Berhati-hatilah terhadap segala sesuatu….”
Para paleontolog melakukan perjalanan melalui padang pasir, tundra yang membeku, samudera, dan gua-gua bawah tanah untuk menyingkap sisa-sisa spesies yang purba dan punah.
Pekerjaan tersebut bisa berresiko, sebelum menemukan fossil hanyalah permulaan. Begitu fossil ditemukan, paleontologist harus mengangkatnya dari tanah secara hati-hati. Proses penggalian ini bisa berhari-hari.
Paleontolog 1,”Jadi di sini lubang hidung yang lain, di sini.”Paleontolog 2,”Ya.”
Paleontolog 1,”Ini, aku menggali bagian hidung.”
Mereka harus berhati-hati agar tidak merusak fossil apapun yang ada. Ketika diangkat dari tanah, fossil dibungkus dalam aluminium foil dan dilapisi kain goni untuk menjaga keamanannya selama perjalanan. Di laboratorium, bungkus dibuka dan fossil harus mendapatkan pembersihan.
Fossil yang asli terlalu berat dan mudah pecah untuk ditampilkan, sehingga para ilmuwan membuat tiruannya. Mereka melapiskan cairan karet pada bagian luar fossil untuk membuat cetakan. Cetakan yang telah mengeras diangkat dan diisi dengan resin untuk membuat tiruan fossil asli. Pada tahap ini, paleontologist juga membuat model-model dari bagian-bagian yang hilang.
Sebagaimana Dr. Paul Sereno menjelaskan, para paleontologist membuat hampir semua apa yang mereka telah gali. Dr. Paul Sereno, “Kami telah cukup berharap kami memiliki lebih, kami telah cukup berkata kami dapat mengambilnya dan membuat kerangka
luarnya. Kami memburu tengkoraknya, kami kekurangan tengkoraknya, kami tidak memilikinya, tetapi kami memiliki cukup dari binatang itu, lengan-lengannya, dan cukup tulang punggung untuk mengukur ukurannya secara benar dan untuk mendapatkan gambar seperti apa gesitnya bintang itu dulu.”
Tulang-tulang yang telah direkontruksi sekarang telah siap untuk dirakit bersama. Tulang-tulang itu ditempatkan pada sebuah frame baja yang menopangnya. Bentuk dari yang dihasilkan frame memberikan kerangka yang lengkap dari tampilan gerakannya. Dengan beberapa potong yang hilang dan kadangkala hanya bekerja dengan beberapa fragmen sebuah tulang, kesalahan-kesalahan bukan hal khusus.
Robert Bakker, “Baiklah, ibu saya kadang menggerak-gerakkan sangkar sambil berkata, “Baiklah, Bob, kamu adalah seorang ilmuwan, kamu selalu menghidupkan makhluk-makhluk, kamu dapat satu tulang dan kamu bikin binatang dengan utuh. Kamu dapat kepala yang salah, ekor yang keliru, ekor dengan ujung yang salah, kepala yang salah pada ujung yang salah….’hal itu terjadi dalam beberapa peristiwa. Tetapi hampir selalu ilmuwan lain yang, ahli anatomi , yang menangkap kesalahan dan membetulkannya”
Dalam banyak kasus, para paleontolog kadang memasangnya dengan benar. Dengan banyak keahlian dan sedikit keberuntungan, hasilnya luar biasa………………kebangkitan kembali seekor spesies yang telah punah jutaan tahun yang lalu.
Sumber: masbadar.wordpress.com
Label:
dinosaurus,
eksplorasi geologi,
evolusi,
fosil,
fossil,
geologi,
hewan punah,
kehidupan purba
Langganan:
Postingan (Atom)